Viral Konflik Parkir Mobil Tangerang, Ini Kata Ulama

Hukum & Kriminal 21 Jun 2026 16:25 3 min read 221 views By Aba Fadaukas

Share berita ini

Viral Konflik Parkir Mobil Tangerang, Ini Kata Ulama
Viral Konflik Parkir Mobil Tangerang, Ini Kata Ulama

MEDIA SOSIAL GEGER: Parkir Mobil Baru Berujung Konflik Tetangga di Tangerang, Ulama Angkat Bicara 

 

TANGERANG — Jagat maya kembali dihebohkan oleh video amatir yang memperlihatkan perselisihan sengit antar-tetangga di salah satu kompleks perumahan di Kabupaten Tangerang. Konflik yang dipicu oleh urusan parkir mobil baru ini memantik perdebatan hangat di kalangan netizen terkait etika hidup bertetangga dan kelayakan fasilitas perumahan. 

 

Kronologi Kejadian: Berawal dari Mobil Baru dan Gembok Portal

Berdasarkan informasi yang dihimpun, duduk perkara bermula ketika seorang warga berinisial RM baru saja membeli mobil baru. Karena keterbatasan lahan, RM memarkirkan kendaraan roda empat tersebut di area depan rumahnya, yang dinilai memanfaatkan sebagian jalan umum lingkungan. 

 

Tindakan ini rupanya memicu ketidakpuasan dari oknum tetangga setempat yang juga memegang kunci portal lingkungan. Diduga tidak terima dan bersikap sinis, oknum tersebut nekat melakukan aksi provokatif dengan membuang gembok portal.

Puncak ketegangan terjadi saat pemilik mobil hendak pergi melaksanakan ibadah. Oknum tetangga tersebut kedapatan menyiramkan air ke jalanan tepat di depan kendaraan RM, hingga memicu adu mulut yang terekam kamera dan viral di berbagai platform media sosial. 

 

Sorotan Netizen: Antara Hak Jalan dan Etika Garasi

Video yang beredar luas tersebut langsung diserbu ribuan komentar dari netizen. Mayoritas masyarakat menyayangkan sikap kedua belah pihak. Di satu sisi, netizen mengkritik pemilik mobil yang dinilai egois karena membeli kendaraan tanpa menyiapkan garasi ( carport ) yang memadai, sehingga mengganggu fasilitas umum. Di sisi lain, tindakan konfrontatif dan sinis dari oknum tetangga juga dianggap tidak bijaksana dan justru memperkeruh suasana. 

 

"Beli mobil bisa, beli atau sewa garasi enggak bisa. Jalan umum itu hak bersama," tulis salah satu netizen. 

 

"Tapi tetangganya juga keterlaluan, mau pergi ibadah malah disiram air dan portal digembok. Harusnya dibicarakan baik-baik lewat RT," timpal netizen lainnya.

 

Tokoh Agama: Solusi Bukan Sekadar Teguran, tapi Pembenahan Umat Terstruktur

Konflik horizontal di tingkat akar rumput ini memicu keprihatinan mendalam dari tokoh ulama setempat. Menanggapi peristiwa tersebut, Ust. Muhammad Soleh dari Kota Bumi, kabupaten Tangerang, menyampaikan rasa prihatinnya, baik atas nama pribadi maupun jam'iyah (organisasi). 

 

Lebih lanjut , Ustadz sekaligus trainer kemasjidan yang saat ini diberi amanah sebagai ketua dewan pembina dewan dakwah kabupaten Tangerang ini  menyatakan bahwa  fenomena ini bukanlah kasus baru dan sudah sering menjadi bahan kajian. Beliau menegaskan bahwa penegakan hukum atau teguran sesaat tidak akan menyembuhkan akar masalahnya, yaitu krisis akhlak dan individualisme urban. 

 

"Tidak ada solusi terbaik kecuali ikut bergabung di majelis taklim dengan narasumber yang mumpuni, progres yang terarah, dan pembenahan yang  terschedule (terjadwal) dengan evaluasi," ujar Ust. Muhammad Soleh saat di tanya langsung oleh penulis. 

 

Beliau menekankan pentingnya modernisasi tata kelola majelis taklim agar materi yang disampaikan berfokus pada fiqh al-jiwar (fikih bertetangga) dan implementasi akhlak sosial secara nyata, bukan sekadar kajian ritual formalitas. 

 

Kritik Internal untuk Para Pendakwah

Tidak hanya memberikan solusi bagi warga, Ust. Muhammad Soleh juga memberikan catatan tebal bagi para pemuka agama dan ustadz di wilayah urban. Beliau meminta para pendakwah untuk lebih aktif bergerak menjemput bola dan tidak pasif menunggu di mimbar masjid.

 

 "Dan jangan abaikan, ustadz harus rajin silaturahmi kepada umat, mau mendengar curhatan umat dengan senang hati," pungkasnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, sengketa antar-tetangga di Kabupaten Tangerang tersebut diharapkan dapat dimediasi oleh pengurus RT/RW setempat guna menghindari konflik fisik yang lebih luas, sekaligus menjadi momentum evaluasi bersama bagi penataan sosial di kawasan perumahan padat penduduk. 

Tangerang Hari Ini