Ketika Ustadzah AI Menjadi Panutan: Mengapa Belajar Agama Tetap Harus Berguru kepada Ulama Bersanad?

Edukasi & Sehat 26 Jun 2026 09:01 6 min read 356 views By Gus Isqowi

Share berita ini

Ketika Ustadzah AI Menjadi Panutan: Mengapa Belajar Agama Tetap Harus Berguru kepada Ulama Bersanad?
AI dapat menyampaikan informasi, tetapi hanya guru yang bersanad mampu membimbing hati menuju cahaya ilmu.

Ketika Ustadzah AI Menjadi Panutan: Kemajuan Teknologi yang Menantang Tradisi Keilmuan Islam  I Oleh: Gus Isqowi

 

Di layar ponsel, ia tampak seperti seorang ustadzah muda yang lembut. Wajahnya teduh, tutur katanya santun, pembawaannya menenangkan. Setiap hari ia menyampaikan potongan ayat Al-Qur'an, hadits, motivasi islami, hingga nasihat kehidupan yang menyentuh hati. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sosok pendakwah masa kini.

 

Padahal, figur tersebut sama sekali bukan manusia.

 

Ia adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menampilkan ekspresi wajah, gerakan bibir, intonasi suara, bahkan gestur layaknya manusia sungguhan. Banyak orang baru menyadari kenyataan itu setelah melihat penjelasan dari pihak pembuatnya. 

 

Fenomena ini menjadi penanda bahwa perkembangan teknologi telah memasuki babak baru. AI tidak lagi sekadar membantu pekerjaan manusia, tetapi mulai mampu membangun kepercayaan publik melalui sosok virtual yang terasa hidup.

 

Di satu sisi, perkembangan tersebut menunjukkan kreativitas luar biasa. Namun di sisi lain, ketika memasuki wilayah agama, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar : apakah ilmu agama dapat disampaikan hanya melalui kecanggihan teknologi ?

 

 

Dakwah Digital Membuka Peluang Baru

 

Tidak dapat dipungkiri, media sosial telah menjadi ruang dakwah yang sangat efektif. Generasi muda lebih banyak menghabiskan waktunya di TikTok, Instagram, maupun platform video pendek dibandingkan menghadiri majelis ilmu secara langsung.

 

Dalam konteks ini, AI mampu membantu menghadirkan konten dakwah secara konsisten. Ia tidak mengenal lelah, dapat memproduksi materi setiap hari, mengikuti tren yang sedang viral, bahkan mampu menjawab berbagai pertanyaan sederhana dalam hitungan detik.

 

Bagi sebagian orang, teknologi semacam ini menjadi jembatan awal untuk mengenalkan nilai-nilai Islam, akhlak mulia, atau motivasi spiritual kepada masyarakat yang sebelumnya jauh dari kajian keagamaan. 

 

Sebagai alat bantu, AI memang memiliki manfaat yang besar. Namun persoalannya berubah ketika AI tidak lagi diposisikan sebagai alat, melainkan mulai dipersepsikan sebagai guru agama. 

 

 

Ilmu Agama Tidak Lahir dari Algoritma

 

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi.

 

Ilmu diwariskan melalui proses belajar yang panjang, dibimbing oleh guru, diverifikasi oleh para ulama, kemudian diteruskan melalui sanad keilmuan yang jelas. 

 

Sanad bukan hanya daftar nama guru, melainkan mekanisme penjagaan agar ajaran Islam tetap autentik dari generasi ke generasi.

 

AI tidak memiliki pengalaman belajar sebagaimana manusia. Ia mengolah miliaran data yang tersedia di internet, tetapi tidak mampu membedakan mana pendapat yang kuat, mana yang lemah, mana yang telah disepakati para ulama, dan mana yang masih diperselisihkan, kecuali sesuai dengan data yang diberikan kepadanya.

 

Apabila terjadi kesalahan kutipan ayat, kekeliruan memahami hadits, atau penyederhanaan hukum agama yang seharusnya memiliki banyak rincian, siapakah yang bertanggung jawab?

 

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. 

 

Popularitas tidak selalu identik dengan otoritas keilmuan. 

 

 

Rasulullah Mendidik, Bukan Sekadar Menyampaikan Informasi

Al-Qur'an telah memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai metode pendidikan Islam. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 151 :

 

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan jiwamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui."

 

Ayat ini menjelaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada menyampaikan ayat-ayat Allah (tilawah). Setelah itu ada proses tazkiyah, yaitu membersihkan hati, memperbaiki akhlak, membimbing jiwa agar siap menerima kebenaran.

 

Barulah kemudian dilakukan ta'lim, yakni mengajarkan ilmu secara bertahap hingga melahirkan pemahaman yang benar. Inilah sistem pendidikan Islam yang sangat utuh.

 

Bukan hanya transfer informasi, melainkan transformasi manusia.

 

AI mungkin mampu membacakan ayat.

 

AI dapat menjelaskan arti sebuah hadits.

 

Bahkan AI bisa merangkum pendapat para ulama. 

 

Namun AI tidak mampu melihat kondisi batin muridnya, tidak mengetahui penyakit hati seseorang, tidak dapat membimbing proses taubat, tidak bisa menjadi teladan kehidupan, dan tidak mempunyai tanggung jawab moral sebagaimana seorang guru. 

 

 

Bahaya Ketika Otoritas Digantikan Popularitas

 

Media sosial memiliki logika yang berbeda dengan dunia pendidikan.

 

Algoritma lebih menyukai konten yang singkat, emosional, cepat dipahami, dan mudah dibagikan.

 

Akibatnya, pembahasan agama sering kali dipotong menjadi potongan-potongan pendek yang kehilangan konteks.

 

Masyarakat akhirnya merasa telah memahami agama hanya dari video berdurasi satu menit. 

 

Padahal ilmu fiqih, tafsir, aqidah, maupun akhlak membutuhkan proses belajar yang mendalam.

 

Lebih jauh lagi, persona AI yang didesain menarik berpotensi membangun hubungan emosional semu (parasosial). Pengikut merasa mengenal sosok tersebut, padahal ia hanyalah karakter digital yang dikendalikan oleh pihak tertentu.

 

Publik pun tidak mengetahui siapa yang berada di balik sistem itu, apa tujuan pembuatannya, apakah murni dakwah, kepentingan bisnis, strategi pemasaran, atau bahkan agenda ideologis tertentu.

 

Kepercayaan yang dibangun melalui visual dapat menjadi sangat kuat, meskipun sumber ilmunya belum tentu jelas. 

 

 

AI Sebaiknya Menjadi Asisten, Bukan Pengganti Guru Teknologi bukanlah musuh.

 

Justru umat Islam perlu memanfaatkannya untuk memperluas dakwah, mempercepat penyebaran ilmu, memperindah penyajian materi, menerjemahkan bahasa, membuat ilustrasi, hingga membantu administrasi pendidikan.

 

Namun posisi AI harus tetap proporsional.

 

Ia adalah alat bantu, bukan sumber otoritas keilmuan.

 

Belajar agama tetap harus dilakukan melalui guru yang memiliki kompetensi, akhlak, sanad keilmuan yang jelas, dan dapat dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang diajarkannya. 

 

Rasulullah ﷺ sendiri menerima wahyu secara bertahap selama 23 tahun. Para sahabat belajar langsung kepada beliau. Generasi tabi'in belajar kepada para sahabat. Demikian seterusnya hingga lahirlah mata rantai keilmuan Islam yang terjaga sepanjang sejarah.

 

Tradisi inilah yang tidak boleh terputus hanya karena manusia semakin terpesona oleh kecanggihan teknologi. 

 

 

Penutup

 

Kemajuan AI merupakan anugerah yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Akan tetapi, dalam urusan agama, teknologi tidak boleh menggantikan proses pendidikan yang diwariskan Rasulullah ﷺ.

 

Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 151, pendidikan Islam dibangun melalui tiga tahapan besar: tilawah ( membacakan wahyun), tazkiyah ( penyucian jiwan), dan  ta'lim ( pengajaran ilmu ).

 

Ketiga proses tersebut memerlukan kehadiran seorang pendidik yang hidup, memiliki akhlak, pengalaman, keteladanan, dan sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Karena pada akhirnya, agama bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar, tetapi juga tentang siapa yang membimbing kita menuju kebenaran itu.

 

 

Tentang Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, Pengasuh Majlis Pulang, penggagas Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual, serta arsitek gerakan keummatan yang berfokus pada dakwah, pengembangan spiritual, dan pemberdayaan ustadz.

Tangerang Hari Ini